shoutmix

Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

27 Juni 2010

Pengen bikin web

buat agan2 semua saya mau belajar bikin website,saya bener2 nubi di bidang yang satu ini saya mau tau cara bikin website dari yang basic dulu aja,mohon pencerahan nya buat nubi, agan2 semua
pelajarilah apa aja yg berhubungan ama website.. itu adalah langkah pertama dan langkah berikutnya adalah
  1. mempelajari HTML. pokok dari website ada di HTML, tentunya HTML murni juga kurang tepat bila tidak mempelajari pendukungnya.
  2. css. pendukung tampilan html dan akan banyak membantu km dalam berkreasi.
  3. javascript. kebanyakan tidak ada yang begitu fokus mempelajari javascript karena sudah ada tools atau bantuan seperti dari jquery dan lain-lain. bila css memberikan hasil yang bagus dan dinamis dalam tampilan, JS membantu agar menjadi lebih baik
  4. bahasa pemrograman seperti PHP, ASP, ato JSP. dinamis dalam tampilan berbeda dengan dinamis di isi / kontent dari site tersebut
  5. Database yang digunakan untuk menyimpan data.
  6. upload. kalau tidak di upload dan faham caranya.. bagaimana site bisa tampil sempurna

24 Februari 2010

blog

Tapi di tengah gelombang penolakan terhadap RPM Konten, rasanya, bagi saya, kurang bertanggung jawab apabila diam saja.

Begini, suka atau tidak, pada akhirnya konten yang mengisi laman website, yang mengisi ruang-ruang publik, perlu diatur. Mengapa perlu diatur? Ada banyak argumen, baik yang populis, asal bekoar, sampai yang akademik (atau pura-pura akademik) ilmiah. Apapun argumen, yang pasti sudah terjadi, banyak peristiwa di masyarakat yang sebetulnya tidak perlu terjadi (kasus Prita, kasus anak sekolah diterminasi gara-gara menggunakan facebook untuk hujat gurunya, sesama teman saling ledek akhirnya dipolisikan, dll) seandainya sejak mula dini hari Pak Pemerintah tanggap sigap menyediakan kerangka hukum dan kebijakan
yang jelas, tegas, lugas dan tersosialisasikan dengan baik.

Jadi, singkat cerita pengaturan dan peraturan konten Internet diperlukan. Lantas mengapa timbul gelombang penolakan? Bisa macam-macam sebab. Dari alasan politik tingkat tinggi seperti, pokoknya apapun yang dibuat Pemerintah tolak. Ketidak-berhasilan pemerintah sebangun dengan kegagalan partai berkuasa. Siapa yang kemungkinan menggunakan alasan ini? Partai pesaing, bisa yang sekasur (sekarang sedang berkoalisi) bisa pula partai seberang rumah (oposisi).

Ada juga alasan lain. Ndak suka sama menteri. Pokoknya apapun yang diperbuat oleh menteri ditolak? Mengapa demikian? Mungkin kecewa karena jagoannya tak berhasil jadi menteri, kecewa karena tidak jadi dapat proyek, atau menganggap si menteri tidak pantas duduk di situ. dll. Siapa yang kemungkinan besar beralasan ini? Bisa teman separtai, bisa birokrat di bawahnya, bisa siapa saja.

Apa lagi alasan lain? Banyak. Tapi intinya,
takut. Ya, takut karena kenyamanannya akan terganggu, takut karena kebebasan yang sudah dinikmati terampas, takut karena akan kehilangan rejeki, dlsb.

Nah saya menyoroti kelompok ketiga ini saja, mereka yang takut, apapun penyebabnya. Takut dapat disebabkan tidak tahu detil informasi tentang suatu perkara (dalam hal ini RPM Konten), belum baca tuntas, baru dengar katanya, langsung terangsang, dan komentar, melawan. Takut dapat juga disebabkan karena sudah tahu resiko yang akan dihadapi tapi masih belum siap menghadapi kenyataan yang mungkin akan dirasakan.

Nah persoalan dengan RPM Konten ini saya kira, pembuatnya tidak punya horison perasaan, jangkauan jiwa yang luas, menyelami psikologi massa, memahami perubahan batas-batas keberlakuan sebuah teknologi yang telah terbukti mengubah perilaku, dan dalam hal tertentu, tatanan sosial. Barangkali para pembuatnya, masih asyik pada tataran lexicon, semantik, bermain kata dan kalimat, tapi belum
punya kesadaran masuk ke tataran jiwa regulasi, roh pengaturan, filosofi keseimbangan antara kebebasan dan batasan.

Tanpa bermaksud menuduh atau menghakimi, saya menduga, referensi dalam membuat RPM Konten masih relatif sedikit, walau dikatakan oleh humas kementerian sudah dikaji lama sekali. Bicara soal waktu, ini juga - sekali lagi - menunjukkan kelemahan sosialisasi RPM Konten ini. Lamanya pembahasan tidak atau kurang berkorelasi dengan kualitas dan tingkat penerimaan RPM ini oleh masyarakat. Walau sudah dibahas puluhan tahun, kalau jeblok, yang membahasnya mediocre sama saja, bukan?

Kalau menggunakan istilahnya Prof John Thomas, gurunya Pak Naswil di Milpitas, untuk membuat regulasi yang baik, perlu didukung data yang baik. Data biasanya diperoleh dari riset. Pertanyaannya, sudahkah riset yang mendukung pembuatan RPM Konten ini dilakukan? Pertanyaan ini saya ajukan, karena empirik membuktikan dari seratus regulasi, delapan puluh tiga
dibuat begitu saja, karena ada perintah atasan, hanya untuk memenuhi amanat undang-undang, merespon kejadian di masyarakat. Entah alasan mana yang mendasari dibuatnya RPM Konten ini.

Masih kata Pak Thomas, regulasi yang buruk tercermin dari resistensi publik. Kenapa buruk? Ambigu, buram alias tidak jelas definisi dan batasan. Tak tentu arah alias ndak jelas yang mau diatur apa, siapa, di mana. Loyo alias tidak bisa di-enforce, lantaran petugas yang meng-enforce tak paham apa yang mesti dilakukan, lantaran yang diatur lebih kuat dari yang mengatur. Imposible alias mengatur sesuatu yang sangat sulit bahkan tak mungkin diatur karena sifat objek maupun subjek yang diatur. Dan masih ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan rendahnya kualitas regulasi.

Kembali ke RPM Konten, jadi bagaimana? Apa solusinya? Mbah Johnson, professor Komunikasi, dosennya Pak Naswil di Sunnyvile, berpesan, yang pertama, komunikasi is the best way to solve resistance
in new regulations issuance. Pendapat ini juga diamini oleh Prof Snyder, masih dosen temannya Pak Naswil ketika kuliah di Clementi. Hanya komunikasi? Tentu tidak. Kalau gitu apa dong!

Lha itu di atas sudah dikasih tahu ciri-ciri regulasi yang buruk, tinggal dibalik saja, tho? Hanya itu? Ada lagi. Apa itu? Dalam berkomunikasi dengan stakeholder, khususnya yang resisten terhadap RPM ini sebaiknya tidak arogan, merasa paling benar, merasa paling berkuasa, jelaskan dengan empathy.

Sudah dulu, mau meeting. Mohon maaf jika tidak berkenan, namun saya tetap berharap, semoga "spam" ini masih ada manfaatnya.

Success for Us, from
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi


Source:
Milis APWKomitel@yahoogroups.com

06 Februari 2010

Ruby Alamsyah memukau ratusan Mahasiswa Gundar

Kisah Roy vs Ruby kagak ada habisnya.. Keduanya sama-sama IT tetapi Roy malah dibilang arogan, sok tahu dan (u type everything yg menghina disini). fakta aja Ruby dan Roy berangkat pada tempat yang sama.. tetapi kok malah ujung2nya bentrok gara2 1 hal.
Kalau disuruh dukung seh.. lebih baik ngak dukung.. daripada dibilang salah kutip XDDD


Dalam sebuah diskusi di Universitas Gunadarma, Roy Suryo dan Ruby Alamsyah dijadwalkan bersua. Namun Roy datang telat, Ruby pun manggung tanpa kehadiran anggota Komisi I DPR RI itu.

Sesuai keahliannya, Ruby berbicara seputar ilmu digital forensik kepada ratusan mahasiswa Universitas Gunadarma.

Dari pengamatan detikINET, para mahasiswa ini begitu antusias mengikuti. Bahkan sampai duduk beralas ubin lantaran 300 bangku yang disediakan panitia terisi penuh.

Dalam penjelasannya, Ruby mengatakan bahwa digital forensik awalnya disebut sebagai komputer forensik. Namun agar lahan garapannya lebih luas nama itu diubah menjadi digital forensik.

"Secara umum digital forensik adalah menganalisa barang bukti digital secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum," paparnya, dalam diskusi bertajuk 'Continuous Security in Preventing Modern Crime' di Universitas Gunadarma, Depok, Kamis (4/2/2010).

Roy sendiri baru datang setelah satu jam lebih setelah acara berlangsung. Ia datang tepat setelah Ruby memasuki bagian kesimpulan presentasinya dan langsung disambut audiens. Roy mengaku terlambat karena harus mengikuti acara Panja TVRI hingga 13.30 WIB.



eits.. masa Roy mau di gituin doank.. dia khan harus bales pernyataan Ruby.. mari saksikan
Meski datang telat, Roy Suryo cukup tampil energik dalam memaparkan presentasinya di depan ratusan mahasiswa. Namun tetap saja, anggota DPR ini masih menyinggung aksi Ruby Alamsyah yang memamerkan aksi penggunaan kartu ATM bodong di TV.

"Yang dilakukan mas Ruby itu menurut saya berlebihan," ujar Roy di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Gunadarma, di Kampus D Margonda, Depok, Kamis (4/2/2010).

Roy juga mengaku tidak pernah melaporkan Ruby ke pihak kepolisian atas aksinya tersebut, melainkan hanya mengadu ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

"Tapi polisi ternyata juga lapor ke KPI, dan kita akhirnya ketemu di sana (KPI-red). Dan Elman Saragih dari Metro TV juga mengakui dalam tayangan tersebut harusnya ada caption yang menyebutkan bahwa aksi itu tidak untuk diikuti," jelasnya.

Roy sendiri menilai secara pribadi, dirinya dan Ruby tidak ada masalah. "Kita hanya berbeda pandangan. Saya hanya dari ilmu komunikasi teknologi dan mas Ruby dari sisi sekuriti," tukasnya.

Edmon Makarim, mantan Staf Ahli Bidang Hukum Menkominfo, coba menengahi. Ia pun yakin bahwa aksi Ruby tidak disengaja.

"Jadi pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini (Roy dan Ruby-red) adalah etika komunikasi juga harus diperhatikan," pungkasnya.
etika berkomunikasi adala hal yang sangat jarang ditemui saat-saat ini.
tampaknya ada yg sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk mereguk keuntungan semata.. tetapi untuk kedepannya.. mari kita lebih berhati-hati

Yahoo

Powered By Blogger